Feeds:
Posts
Comments

Tape Bondowoso

Makanan khas Bondowoso adalah tape manis Bondowoso, yang umumnya dikemas dalam bèsèk (anyaman dari bambu berbentuk kotak). tape ini terbuat dari ketela pohon , wisatawan mancanegara menyebutnya fermented of cassava, mirip seperti peyeum tapi rasa tape manis bondowoso lebih khas. banyak wistawan dari luar bondowoso yang rela datang ke bondowoso hanya untuk membeli tape manis ini

merk tape manis yang terkenal antara lain Tape manis 82, tape manis 31, dll. Toko penjual tape manis Bondowoso pada umumnya terkonsentrasi di Jalan Jendral Sudirman atau lebih dikenal daerah Pecinan.Jl jendral sudirman. ( sumber )

Sejarah Bondowoso

Berawal dari seorang anak yang bernama Raden Bagus Assra, ia adalah anak Demang Walikromo pada masa pemerintahan Panembahan di bawah Adikoro IV, menantu Tjakraningkat Bangkalan, sedangkan Demang Walikoromo tak lain adalah putra Adikoro IV. Tahun 1743 terjadilah pemberontakan Ke Lesap terhadap Pangeran Tjakraningrat karena dia diakui sebagai anak selir. pertempuran yang terjadi di desa Bulangan itu menewaskan Adikoro IV, Tahun 1750 pemberontakan dapat dipadamkan dengan tewasnya Ke Lesap. Terjadi pemulihan kekuasaan dengan diangkatnya anak Adikoro IV, yaitu RTA Tjokroningrat. Tak berapa lama terjadi perebutan kekuasaan dan pemerintahan dialihkan pada Tjokroningrat I anak Adikoro III yang bergelar Tumenggung Sepuh dengan R. Bilat sebagi patihnya.

Khawatir dengan keselamatan Raden Bagus Assra, Nyi Sedabulangan membawa lari cucunya mengikuti eksodus besar-besaran eks pengikut Adikoro IV ke Besuki. Assra kecil ditemukan oleh Ki Patih Alus, Patih Wiropuro untuk kemudian di tampung serta dididik ilmu bela diri dan ilmu agama..Usia 17 tahun beliau diangkat sebagai Mentri Anom dengan nama Abhiseka Mas Astruno dan tahun 1789 ditugaskan memperluas wilayah kekuasaan Besuki ke arah selatan, sebelumnya beliau telah menikah dengan putri Bupati Probolinggo.

Tahun 1794 dalam usaha memperluas wilayah beliau menemukan suatu wilayah yang sangat strategis untuk kemudian disebut Bondowoso dengan diangkatnya beliau sebagi Demang di daerah yang baru dengan nama Abhiseka Mas Ngabehi Astrotruno. Demikianlah dari hari ke hari Raden Bagus Assra berhasil mengembangkan Wilayah Kota Bondowoso dan tepat pada tanggal 17 Agustus 1819 atau hari selasa kliwon, 25 Syawal 1234 H. Adipati Besuki R. Aryo sebagai orang kuat yang memperoleh kepercayaan

Gubernur Hindia Belanda, dalam rangka memantapkan strategi politiknya menjadikan wilayah Bondowoso lepas dari Besuki, dengan status Keranggan Bondowoso dan mengangkat R. Bagus Assra atau Mas Ngabehi Astrotruno menjadi penguasa wilayah dan pimpinan agama, dengan gelar M. NG. Kertonegoro dan berpredikat Ronggo I, ditandai penyerahan Tombak Tunggul Wulung. .Masa Beliau memerintah adalah tahun 1819 – 1830 yang meliputi wilayah Bondowoso dan Jember.

Pada tahun 1854, tepatnya tanggal 11 Desember 1854 Kironggo wafat di Bondowoso dan dikebumikan di atas bukit kecil di Kelurahan Sekarputih Kecamatan Tegalampel, yang kemudian menjadi Pemakaman keluarga Ki Ronggo Bondowoso. (sumber)

Buku : Pandangan Hidup

Penulis : Tan Malaka, 1984

Penerbit : Komunitas Bambu dan Yayasan Massa

Tebal buku : 102 halaman

Tahun terbit : 2000

3

Pandangan hidup adalah salah satu karya Tan Malaka yang ditulis setelah Madilog. Dalam buku ini Tan Malaka menguraikan separangkat pemikiran filosofis yang dijadikan landasan bagi seseorang atau sekelompok orang dalam menjalani hidup. Buku ini menguraikan tentang pemikiran tokoh-tokoh seperti Hegel, Marx, Engels serta Darwin dan menjadikannya satu kerangka pemikiran sebagai landasan bagi pelaku individu dan proses perkembangan masyarakat dalam suatu Negara. Pada bagian pertama buku ini diuraikan pengertian dasar tentang pandangan hidup. Pengertian dasar dari istilah-istilah yang berkaitan dengan konsep dasar pandangan hidup, mulai dari penjelasan pandangan hidup masyarakat. Prinsip yang masih menganut kepercayaan animisme-dinamisme, pandangan hidup masyarakat India yang mencakup hinduisme-budhaisme. Selain tentang pandangan hidup, dalam buku ini juga diuraikan tentang dasar agama yang disebarkan oleh 3 Nabi, yaitu Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Muhammad. Dalam buku ini Tan Malaka juga membahas tentang agama, filsafat dan ilmu pengetahuan untuk mengantar pembaca kepada pemikiran Hegel, Marx dan Engels serta menyangkut ke permasalahan kapitalisme yang di konfrontasikan dengan sosialisme. Pada bagian kedua membahas tentang permasalahan negara dengan kerangka pemikiran Hegel, Marx, dan Engels. Pada buku ini Tan Malaka menguraikan suatu konsep negara dengan menggunakan dasar dialektika dan materialisme yang merupakan sebuah penerapan pemikiran Marx dan Engels. Tan Malaka juga menguraikan tentang timbul, tumbuh dan berkembangnya negara, dimana disebutkan perkembangan masyarakat mulai masyarakat komunal primitif, perbudakan, feodal, kapitalis, sosialis dan komunis (komunal modern). Meskipun buku ini tampak kurang lengkap dan hanya sedikit mengutip serta penjelasannya terkesan sederhana, namun di dalamnya telah mencakup pemikiran Tan Malaka dalam pandangan hidup yang didasari materialisme dialektik. Melalui buku ini Tan Malaka menguraikan pandangan hidupnya yang hendak mengajak bangsa ini untuk melepaskan diri dari berbagai rantai yang mendukung dan menghambat hidup menuju kemerdekaan. Tan Malaka ingin mengajak masyarakat Indonesia untuk lepas dari cara berpikir yang masih sangat dipengaruhi oleh pikiran-pikiran yang bersifat mistik, irasional, dan feodalistik.

Dalam kehidupan Kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan Membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah Ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.

Cerita bermula ketika aku masih kecil, Continue Reading »

Pak, disini aku masih mencintai mu
Walau kerling nakal majikan ku mengundang arti
Dan janji menggiurkan terbisiki di telinga dari bibirnya yang menjijikan

Pak, percayalah….,
Selamanya tak akan pernah terbesit dihati ku
Untuk menghancukan ikrar suci kita
Biarpun wajah bak malaikat itu…. jujur, lebih ngganteng dari mu
Aku tidak berubah…,
Baik cinta, maupun perasaan ku
Tapi kenyataan berbicara lain
Imaji liar majiakan ku membuat mimpi manis kita tentang hari depan hancur
Naluri binatangnya mengoyak apa yang selama ini kujaga

Pak, aku tidak menyerah begitu saja
Cintaku padamu memberikan kekuatan untuk melawan
Namun dari pada itu…,
Tubuh besarnya manalah sebanding dengan ringkihnya aku
Dengus nafasnya bersahutan dengan teriak ketakutan ku
Tapi mana peduli dia…,
Satu persatu dilucutinya aku
Dia pun makin menggila
Benteng pertahanan terakhir ku yang selembar itu dia taklukkan
Dia memang berhasil menodai ku,
Tapi sumgguh, dia tidak pernah menyelesaikannya
Dia memang meregang
Tapi sungguh, Bukan klimaks yang didapat,
Namun  maut yang mencegat,

Disisa tenaga ku..
Aku berhasil meraih pisau dapur dan menghujamkannya pada leher si keparat itu
Pak, disini aku masih mencintai mu
Walau terali besi membatasi langkahku
Raja disini mana peduli aku membela diri
Kenyataannya aku merenggut nyawa warganya
Titip salam buat penguasa kita
Katakan aku tak bersalah…….
Aku kangen…,
Pada rumah, senyum mu dan tangis anak kita
Adakah kamu juga ??

Blog ini berawal dari sebuah Group dan  Halaman di Facebook. Yang merupakan salah satu wadah bagi para mahasiswa Bondowoso, baik yang menempuh pendidikan di Bondowoso maupun yang ada di perantauan. mari kita bersatu menuju Bondowoso yang lebih baik.